header

1.

Sylvia Husna Rahmani.

2.

KHOIRUL IHWAN NUR FADLI.

3.

Kristiarso.

4.

ADI PRAYOGI.

5.

LIANA ZAKIYATUL INSANI.

6.

Amaria Rizqa Fathia.

7.

Uswatul Khasanah.

8.

SYIFA DWI SAFITRI.

9.

DEWI SUNDARI.

10.

FADILA ELMA RAMADHANI.

1.

An introduction on Javanese Chronogram.

2.

Pengaruh psikologi selama WFH terhadap produktivitas kerja pustakawan di lingkungan PDDI-LIPI.

3.

Jejak-jejak pengabdian : langkah kami di masa pandemi.

4.

Setitik abdi di tengah pandemi : sejuta harapan untuk perubahan.

5.

Desain kurikulum : pembelajaran qur'an hadits mix model KTSP-kurikulum 2013 untuk tingkat MI dan MTs di Banyumas.

6.

Evaluasi kinerja fitur perpanjangan mandiri aplikasi senayan library management system ( SLiMS) di UPT Perpustakaan Andalas.

7.

Mahasiswa bisa apa? : partisipasi mahasiswa dalam pembangunan masyarakat desa.

8.

Sistem politik Indonesia.

9.

Konsep dan pengembangan pembelajaran IPS.

10.

Pendidikan karakter : teori & praktik.

E-RESOURCES

2018-01-30

Workshop Strategi Menulis Bagi Pustakawan

Rabu 31 Januari 2018, UPT Perpustakaan IAIN Purwokerto bekerja sama dengan Ikatan Pustakawan Indonesia Kabupaten Banyumas telah menyelenggarakan workshop bertema “Strategi Menulis Pustakawan”. Woskhop dengan narasumber Heru Kurniawan, founder rumah kreatif “wadas kelir” Banyumas, yang juga seorang penulis buku terkenal ini diikuti oleh para pustakawan perguruan tinggi se-Banyumas.

Workshop ini sangat representative untuk penguatan kemahiran menulis bagi para pustakawan, sebab menulis adalah bagian dari profesi pustakawan yang harus dipertanggungjawabkan. Demikian menurut ketua panitia workshop, Aris Nurohman SH.I., M.Hum, selaku kepala UPT Perpustakaan IAIN Purwokerto dalam sambutannya. Semua pustakawan wajib memiliki tulisan, sebagaimana peraturan terbaru tentang jabatan fungsional pustakawan. Tanpa tulisan kenaikan pangkat pustakawan dapat terhambat.

Hal menarik yang perlu diulas sebelum moment inti adalah paparan wakil Rektor 1 IAIN Purwokerto, Bapak Dr. H. Munjin, M.Pd.I, bahwa menulis harus dimulai dengan membaca. Pustakawan sebagai profesi yang tidak lepas dari membaca harus mampu disalurkan dalam bentuk tulisan. Ini merupakan sebuah motivasi brilian dari seorang wakil rektor I IAIN Purwokerto. Motivasinya menghujam sampau relung hati semua peserta workshop dan khususnya para pustakawan IAIN Purwokerto.

Runut sudah sambutan mengarah ke inti. Heru Kurniawan sebagai narasumber dan penulis yang sudah malang melintang dengan gaya khasnya, sang sastrawan ini mampu membius peserta workshop. Kata demi kata, kalimat demi kalimat seolah merupakan rangkaian indah menghiasi imaginasi pikiran para pustakawan. Menggerak asa para pustakwan untuk kreatif dalam menulis.

Beliau menuturkan bahwa saat kita menulis, kita dituntut untuk berfikir kreatif atau out of the box. Berfikir kreatif artinya kita memiliki pemikiran yang unik, berbeda dan merdeka sehingga mampu menarik perhatian pembaca. Syarat dari kreatif diantaranya, pertama imitasi, yaitu proses meniru dari apapun yang diketahui atau dilihat. Kedua inovasi, pada tahap ini sesorang akan menambahkan ide dari apa yang sudah diketahui dan tahap terakhir discovery, seseorang mampu menemukan dan memunculkan ide baru. Silahkan mulai dengan mulis apa yang didapatkan dari kreatifitas itu. Jangan terpacu pada harus menulis model apa. Sebab tulisan itu ada macam-macam, ada yang benar, yang baikyang , bermanfaat dan yang menginspirasi. Setalh menjadi tulisan, jangan segan untuk mencoba mempublikasikan. Sebab banyak media yang bisa menampung karya-karya tulisan kita. bisa media massa, sosial media, bahkan publikasi dalam bentuk buku. Beliau mengatakan bahwa kegiatan menulis adalah untuk mengembangakan diri, berbagi dan juga mendapatkan materi serta prestasi.

Dipungkasan acara, para peserta diberi kesempatan membuat karya tulis, dan kemudian akan direview dan diedit oleh narasumber. Tulisan dibuat dalam bentuk artikel inspiratif mengenai berbagai hal dalam lingkup kepustakawanan. Salam Literasi!


Back-kembali